11 January 2011

PENGKADERAN KELAS EKSEKUTIF VIP


Dalam teori motivasi yang aku peroleh, setidaknya ada 4 motivasi dasar seseorang melakukan sesuatu. Jika dihubungkan dengan pengkaderan (entah apa yang anda pahami tentang pengkaderan yang semua tergantung sudut pandang anda) maka aku membagi kelas-kelas pengkaderan dengan 4 kelas sesuai teori tersebut. Motivasi itu secara berurutan dari yang terendah hingga tertinggi, dari kelas ekonomi sampai kelas eksekutif VIP yaitu: TAKUT, LATAH, BANGGA, dan CINTA. Mungkin 50 tahun lagi mungkin teori ini sudah tidak berlaku lagi. Namun, agaknya memang teori itu masih relevan untuk sekarang.

Kisah ini adalah tentang pengkaderan kelas eksekutif VVIP, pengkaderan dengan motivasi tertinggi, pengkaderan yang sampai saat ini masih absurd untuk diterapkan di kampus, pengkaderan dengan motivasi CINTA.
Ya... Ini adalah kisah kakekku yang mengkaderku dengan rasa cinta.

Bingung harus cerita dari mana.
Hmm.... kita flashback saja mulai dari hal paling pertama yang aku ingat...
-----------------------------------------------------------------------------------------
(--the story begin--)
Kakek begitu marah saat itu. Masih teringat dengan jelas wajah garang kakek 15 tahun lalu dengan membawa dingklik kayu (kursi kecil) yang siap dilempar ke aku yang notabene saat itu masih berumur 5 tahun dan masih duduk di TK besar. Tentu saja saat itu lari adalah jalan satu-satunya. Kejadian itu bermula ketika (lagi-lagi) aku menakali adikku. Menakali satu-satunya adikku saat itu. Hmm...bagaimana bisa kakek begitu kejamnya? Jawabannya baru aku peroleh setelah 15 tahun kejadian itu. Kita simpan dulu jawabannya.

Tidak banyak hal yang bisa kuingat selama masa kecilku bersama kakek setelah kejadian itu. Mungkin bayangan seorang kakek yang kejam masih melekat erat dalam benak kecilku saat itu. Hanya sebuah nasehat aneh yang masih kuingat ketika sedang bepergian naik bis dengan kakek dimasa kecilku: “Le, nek kowe mumet, nyawang njero bis wae.Ojo nyawang njobo” yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti  ini: “Le, kalau kamu pusing (mabuk kendaraan), lihat didalam bis saja, nggak usah lihat luar”. Nasehat yang tidak bisa kuterapkan secara harafiah selama ini karena aku selalu berlaku sebaliknya. Jika aku tidak melihat pemandangan diluar bis aku malah akan pusing. Namun secara filosofis, nasehat ini bijak sekali. Dan lagi-lagi itu baru aku tahu arti filosofisnya setelah umurku berkepala dua. Kita simpan lagi jawabannya.

Ketika masa SMP, sangat sedikit hal yang bisa kuingat saat itu karena memang kehidupan SMP yang berada di asrama memaksa harus jauh dari keluarga. Kita skip saja cerita pada masa ini sampai kejadian penting di saat SMA.

Kerja bakti desa. Ya, hal yang paling anti kukerjakan semasa SMA. Senin sampai sabtu penuh sekolah sampai sore dan hari minggu pun rasanya sangat tidak manusiawi jika harus bekerja, pikirku saat itu. Banyak yang sudah orang yang  menyindirku ataupun menasehatiku. Namun dasar aku yang bebal, semua sindiran itu tidak mempan semua. Tak tanggung-tanggung sang kakek lah yang pada akhirnya harus turun tangan mengajakku kerja bakti. Jangan anda bayangkan ketika kakek mengajakku wajah kakek seseram dulu waktu aku SD. Sekarang beliau mengajak dengan penuh senyum. Namun jawabanku saat itu hanya “Ya”  yang pada kenyataannya “Tidak Ya” sama sekali. Dan apakah anda tahu hal yang paling kuingat sampai saat itu? beliau tidak marah dengan penolakan berbagai argumenku. Bahkan hal yang paling menyentuh untuk kuingat adalah beliau sudah mengenakan “pakaian dinas” untuk kerja bakti saat itu lengkap dengan segala peralatannya. Lagi-lagi ada hikmah dibalik ini.

Waktu berlanjut sampai tiba saatnya masa-masa susah keluargaku datang. Membiayai kuliahku dan biaya sekolah adik-adikku. Pengorbanan pun harus dilakukan sedikit-demi sedikit. Sampai yang terakhir adalah sawah perjuangan milik kakek. Benar-benar speechless ketika aku dan kakek duduk bersama menceritakan hal ini. Percakapan yang tidak imbang yang pada akhirnya membuat kakek seperti ber-monolog.  Sebuah petuah tentang level tertinggi dari pengkaderan atas dasar cinta.

Aku tidak hafal persis apa yang dikatakan beliau saat itu, tetapi kira-kira isinya seperti ini: “Tahu ndak le, tanah yang kita punya sudah dijual? Ya yang ada disebelah jalan itu sekarang sudah dijual. Biasanya memang susah kalau menjual tanah, tapi kebetulan saja ada orang yang butuh sehingga tanah kita bisa terjual cepat. Bapakmu sudah ngomong ke kakek mengenai hal ini. Namun demi kamu, kakek ya cuma bisa merelakan. Sekarang simpanan tanah kakek maupun bapakmu sudah habis dijual semua. Bapakmu aslinya juga nggado sapi (memeliharakan sapi orang), tapi hasilnya tidak sebanding jika harus nutup kekurangan biaya yang dikeluarkan. Semua itu demi menyekolahkanmu. Biar kamu bisa jadi pintar dan mampu ngangkat keluargamu. Biar saja orang tuamu maupun kakek tidak punya dan tidak sekolah, tapi kamu harus sukses. Kalau apa yang dilakukan ini tidak ada hasilnya, rugi besar le. Rugi besar...”

Subhanallah....ingin menangis rasanya saat itu. Namun tentu saja tangis itu tertahan sampai ujung mata saja.

Sampailah saat itu. Dua hari menjelang uas terakhirku di semester lima. 8 Januari 2011 pukul 8.35. Aku menerima sms yang sebisa mungkin tidak ingin aku terima karena tinggal dua hari lagi aku bisa pulang. Pulang untuk menjenguk beliau yang sudah seminggu sakit. Namun sms dari adikku tersebut telah sampai di handphoneku dengan bahasa singkat yang menusuk: “Mz.. MbAhe ning6al..”. Tidak banyak berpikir, aku memutuskan untuk pulang saat itu juga. Tidak terpikir olehku bagaimana uas di hari senin yang susahnya bukan main. Tidak terpikir olehku bagaimana harus belajar nanti. Tidak terpikir olehku apakah masih bisa melihat senyum ditubuh kakunya sesampai dirumah nanti. Ini kakek yang mendidikku selama ini, aku harus pulang.

Aliran waktu seperti flashback dengan sendirinya sepanjang perjalananku. Kisah-kisah yang kuceritakan kepada anda diatas menghiasi pikiranku. Mengingat-ingatnya tak ayal membuat air mata teruai walau tertahan. Aku tahu tidak mungkin sampai dirumah untuk melihatnya terakhir kali, tapi yang kupikir saat itu : aku harus pulang.

Kisah beliau selama beliau sakit. Itu yang membuatku tambah tidak bisa menahan air mata. Bapak, ibu, bulik, adik dan mbakku semua bercerita dengan inti yang sama: kakek merindukanku saat dimasa sakit, menanyakan kapan kepulanganku, dan menanyakan pada dirinya sendiri apakah masih bisa melihatku bekerja.

Masya Allah... can you imagine that?

Inilah motivasi terbesar dari pengkaderan kawan. Sebuah cinta. Sampai akhir hayat beliau masih memikirkan hasil kaderannya. Pengorbanan yang tulus agar seseorang bisa melebihi kemampuan dirinya sendiri.
Merenung. Sebuah kegiatan yang sering kulakukan ketika ada sebuah kejadian. Kali ini hasilnya adalah jawaban dari hal-hal yang telah kuceritakan kepada anda diatas.

Kita harus menyayangi keluarga. Walau bagaimanapun kondisi keluarga kita, itu adalah keluarga kita. Dari sanalah kita berasal, jangan melupakan siapa asalmu. Jadikan kondisi keluargamu sebagai batu pijakan untuk melangkah. Sebagai anak kecil, memang harus dididik keras jika memang sudah keterlaluan. Namun demikian rasa sayang harus mendasari pendidikan keras itu. Begitulah kira-kira apa yang beliau harapkan dari kisah pertama.

Nasehat anehnya secara harafiah memang kutolak mentah-mentah. Namun secara filosofis, aku menerimanya dengan sepenuh hati setelah kudapatkan jawaban mendalam ini. Ketika kita pusing karena melihat hingar bingar dunia diluarmu, lihatlah didalam dirimu dan cermati apa yang ada dalam lingkaran pengaruhmu saja. Kesenangan diluar sana hanyalah sesaat saja kamu nikmati sepanjang perjalananmu. Namun orang-orang dan benda-benda didalam bis lah yang akan benar-benar menemanimu sepanjang perjalanan. Bukankah demikian kira-kira yang beliau nasehatkan?

Berikan nasehat dengan contoh. Lakukan sendiri apa yang kita mampu sebelum kita menyuruh orang lain melakukannya. Bersiaplah melakukan apa yang akan kamu minta ke orang lain. Perbuatan lebih mudah dicontoh daripada sekedar perkataan. Lakukan semampu apa yang Allah telah berikan kepadamu. Jalan kaki maka jalan kaki lah, berlari masih sanggup maka larilah. Berbicara mengenai hal ini aku jadi teringat, terakhir kali aku melihat beliau adalah ketika beliau sedang jalan kaki dari rumah ke pasar untuk memperbaiki sabitnya yang jauhnya kurang lebih 5 Km. Tanpa mengeluh, tanpa meminta pertolongan ke orang lain saat kita sendiri mampu mengerjakan. Lagi-lagi sebuah pengkaderan dengan kelas yang tinggi.

Pengorbanan adalah hal mutlak untuk penerus/kader kita. Sesuatu yang kita sukai atau perjuangkan selama ini kadang tidak luput untuk dikorbankan jika ini demi penerus kita. Sebuah pengorbanan penuh cinta yang sulit untuk dilakukan oleh pengkader kelas ekonomi yang bertebaran di kampusku. Perlu keyakinan kuat untuk melakukan ini. Perlu ikatan batin yang sangat erat pula. Perlu pengikatan yang tidak bisa putus. Tidak ada kebohongan yang disembunyikan. Tidak ada skenario yang perlu diubah. Tidak perlu menciptakan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Tidak perlu merasa pengkader harus lebih sangar daripada yang dikader. Hanya perlu sedikit pengorbanan dari kesenangan kita. Hanya perlu teladan tanpa mengeluh dan tanpa memanjakan diri.

Bercerminlah dari seorang yang tidak terkenal semacam beliau. Tidak banyak yang melayat dalam kepergiannya saat itu. Hanya orang-orang dekat yang selama ini mengenal kebaikannya.  Namun aku sangat berharap bahwa sedikit orang itu membawa doa yang lebih makbul dan membawa keringanan tersendiri bagi beliau. Bagiku, proses pemakaman beliau meninggalkan sebuah pesan tersendiri: Jangan hanya ingin menjadi yang terbaik dari semua orang, tetapi berbuatlah terbaik bagi semua orang.

Didepan gundukan tanah merah yang masih basah itu, aku sholat ghoib untuk beliau. Sedikit menangis tertahan kuingat-ingat dan kuteguhkan apa yang sudah beliau ajarkan kepadaku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjalankan amanah yang secara tidak langsung diberikan beliau kepadaku. Bismillah...
(-- end of the story--)
-----------------------------------------------------------------------------------------

Maaf jika terlalu panjang dan terlalu kacau susunannya..

Aku hanya ingin menulis kisah yang berarti  ini sehingga emosi yang ada dalam kisah ini tidak menguap begitu saja ditelan waktu. Karena bagiku memori ini tidak akan bisa dibatasi ruang dan waktu...

Wahai pengkader kelas eksekutif VIP, semoga engkau tersenyum di sana mendengar para malaikat membacakan tulisan ini untukmu. Janjiku pada kakek terngiang dan akan selalu aku ingat sampai nanti aku menemui kakek untuk menceritakan keberhasilanku. Tidak sabar rasanya melihat senyum kakek lagi...